Waria, kata yang seakan penuh dengan nilai – nilai negatif dalam pribadi seseorang dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupannya. Tak jarang kita mendengar, bahkan melihat, bagaimana kehidupan mereka dipenuhi dengan kekerasan, baik fisik maupun psikis. Contohnya saja pelecehan – pelecehan yang dilakukan oleh petugas yang seharusnya menjaga keamanan masyarakat, penolakan yang dilakukan oleh para tokoh masyarakat dan tokoh agama, maupun pandangan negatif yang tak berujung dan tak beralasan dari masyarakat pada umumnya.

Mengutip lirik lagu yang dibawakan oleh grup band Seurius, “Rocker juga manusia, punya rasa punya hati…”, itu pula jeritan terpendam yang ada di dalam hati para waria. Mereka pun manusia yang memiliki perasaan dan bisa merasa sakit hati akibatperlakuan – perlakuan tak wajar yang sering mereka terima, sama seperti kita semua. Mereka memiliki harga diri yang seharusnya dilindungi, bukannya diinjak – injak seperti yang terjadi sekarang ini. Apakah tak pernah terlintas dalam pikiran kalian, betapa menderita kehidupan mereka? Menerima pengakuan dari masyarakat saja susahnya setengah mati. Negara pun tak memberi perlindungan bagi mereka, bahkan kesan yang terlihat justru mereka secara tidak langsung dibuang dari kehidupan bernegara. Mereka benar – benar berjuang sendiri untuk tetap hidup di negara ini, dengan segala caci maki yang menghujani kehidupan mereka setiap harinya.

Tak banyak sebenarnya yang dituntut oleh kaum waria itu. Hanya pengakuan akan keberadaan mereka dan kesetaraan akan segala hal yang berhubungan dengan kemanusiaan. Sebagai contoh adalah susahnya waria untuk mencari pekerjaan yang dapat digunakan sebagai penopang hidup mereka. Padahal tidak semua waria suka bersikap kasar dan bertindak seenaknya. Bila hal seperti ini terus berlanjut, tak heran banyak waria yang akhirnya terpaksa mencari nafkah dengan mengamen di jalan. Dan ekstrimnya, mereka terpaksa berpenampilan “wah” untuk menarik perhatian masyarakat sehingga masyarakat paham bahwa mereka eksis. Jadi, jangan salahkan waria bila mereka mencari berbagai macam cara, yang terkadang membuat kita merasa tidak nyaman, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Setelah mengalami berbagai hal buruk yang menimpa kehidupannya, waria pun tak tinggal diam. Mereka tahu, kekerasan tak akan membuat keberadaan mereka diakui, bahkan justru memperburuk citra mereka. Untuk membentuk citra positif akan mereka di mata masyarakat, waria – waria yang ada di Yogyakarta membuat sebuah komunitas yang berasal dari waria untuk waria, bernama KEBAYA. Komunitas ini tidak bersifat mengikat maupun memaksa, mereka hanya berusaha mempersatukan, membentuk kepribadian para waria agar dapat diterima oleh masyarakat, dan mengontrol kegiatan dan tingkah laku mereka dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan bergabung di dalam komunitas ini, para waria bisa mengembangkan diri mereka. Beberapa di antara mereka kini telah mempunyai usaha yang cukup sukses, ada yang menjadi penyanyi untuk pesta-pesta besar, dan ada pula yang sering dipanggil untuk menjadi pembicara di dalam seminar-seminar besar. Dari sini terlihat bahwa waria pun memiliki kemampuan lebih dari sekedar pengamen di jalan. Hanya saja mereka hampir tak memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri atau pun kesempatan untuk menunjukkan kelebihan mereka pada masyarakat karena citra negatif yang dibentuk oleh masyarakat telah menutup jalan mereka untuk menjadi orang yang berguna.

Pembahasan tentang pro – kontra keberadaan kaum waria di tengah kehidupan masyarakat Indonesia tak ada habisnya. Perdebatan akan penerimaan kaum waria di dalam masyarakat selalu menimbulkan protes dari berbagai kalangan, mulai dari segi agama hingga dari segi budaya. Tak banyak yang benar – benar membuka mata dan mau melihat tentang siapa waria itu dan bagaimana kepribadian mereka sesungguhnya. Apakah benar waria selalu terkait dengan hal – hal negatif saja, tanpa memiliki nilai – nilai positif yang sebenarnya juga berguna bagi sesamanya?

Mungkin ada beberapa di antara Anda yang mengerti akan eksistensi waria, tidak hanya dari segi negatifnya saja melainkan dari segi positifnya juga. Namun tak dapat dipungkiri, selama ini kita telah terhegemoni untuk membentuk citra negatif tentang waria di dalam pemikiran kita. Salah satu penyebabnya adalah kedekatan kita dengan media yang sering kali tidak diimbangi dengan sikap kritis kita untuk mencocokkannya dengan fenomena yang ada. Media tak jarang memberitakan tentang waria. Sayangnya, pemberitaan tersebut tak pernah lepas dari hal-hal yang berhubungan dengan kekerasan, pelecehan, dan seksualitas. Seolah – olah tak ada sedikit pun hal yang bisa dibanggakan oleh seorang waria berkaitan dengan faktor-faktor di luar jenis kelaminnya, seperti intelektualitas, potensi, bakat, prestasi, dan lain sebagainya.

Ada sebuah pertanyaan yang selalu mengganjal di dalam hati saya, yaitu seberapa jauhkah masyarakat mengenal pribadi dan kehidupan waria, sampai – sampai mereka bisa memberikan penghakiman dan pernyataan ,yang saya rasa sangat menyakitkan bagi kaum waria itu sendiri. Bayangkan saja bagaimana rasanya bila kita dikucilkan dari kehidupan bermasyarakat dengan begitu banyak orang yang menentang keberadaannya. Bahkan, diakui atau tidak, dimusuhi oleh teman satu gank saja sudah bisa membuat orang menjadi kebingungan setengah mati. Dan jika kita bisa menghakimi tanpa betul-betul mengetahui apa yang sebenarnya mereka alami, tidakkah itu bisa disebut sebagai pemfitnahan secara massal?

Contoh yang paling jelas saat ini mengenai bagaimana media membentuk citra waria di mata masyarakat adalah dengan ditayangkannya program acara “Be A Man”, di mana di sini para waria ini diikutsertakan dalam pelatihan yang berat dengan tujuan menjadikan waria – waria ini menjadi lelaki sejati. Entah apa yang melatarbelakangi ide produksi program acara ini. Namun saya pribadi ragu akan kesungguhan para waria dalam mengikuti acara itu. Apakah mereka ikut karena kesadaran dan keinginan mereka sendiri untuk mengembalikan identitas asli mereka sebagai seorang laki – laki sejati, ataukah karena adanya iming – iming imbalan yang cukup besar untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Alasan kedua tersebut sangat mungkin terjadi mengingat bagaimana susahnya untuk mencari pekerjaan yang memadai bagi kaum waria, tak peduli seberapa cerdas dan berpotensinya mereka di dalam bidang yang diminatinya.

Bisa kita lihat di dalam acara ”Be A Man” tersebut, bagaimana ditampilkan wajah waria yang ketakutan dan merasa tertekan dengan pelatihan-pelatihan yang begitu berat dan dilakukan dengan agak memaksa karena adanya batasan jam tayang serta episode siaran program acara tersebut. Akibatnya waria ini dituntut untuk secepatnya menjadi lelaki sejati tepat pada akhir episode acara, bukan dibentuk kepribadiannya dengan cara yang manusiawi. Contohnya saja saat para waria tersebut ditakuti – takuti dengan menggunakan ular. Sangat tidak manusiawi menurut saya, mengubah kepribadian seseorang dengan menakut-nakutinya menggunakan hal yang tidak masuk akal seperti itu. Apakah bila mereka tidak takut ular lalu bisa disimpulkan bahwa mereka adalah lelaki sejati? Padalah pada kenyataannya, tidak jarang lelaki sejati yang takut juga pada ular karena memang ular adalah binatang yang berbahaya dan cukup sulit untuk dihadapi.

Di dalam media, hal – hal seperti di atas tadi lah yang justru dianggap paling menjual karena banyak masyarakat yang tertarik untuk melihatnya. Saat – saat mengerikan yang dialami oleh waria, secara fisik maupun kejiwaannya, justru menjadi bahan tontonan yang asyik bagi masyarakat seakan tak ada sedikit pun perasaan iba akan apa yang dialami oleh waria tersebut. Wajah ketakutan waria yang diekspos oleh media justru menjadi bahan tertawaan dan dianggap seperti sebuah lawak oleh pemirsanya, seakan itu adalah hal yang wajar saja untuk terjadi dan dikonsumsi publik. Proses kejiwaan waria yang berat ini justru dijadikan hiburan di dalam media demi meraih keuntungan. Bila dikatakan secara gamblang, hiburan itu kita peroleh dengan mengorbankan kejiwaan waria. Di sinilah terlihat dengan jelas bahwa etika media telah amat pudar dan tak berfungsi lagi. Etika itu kini hanyalah hiasan dan dokumen belaka tanpa disertai dengan realisasinya dalam kehidupan nyata.

Mungkin ada di antara orang – orang yang berkecimpung dalam dunia media, yang sebenarnya memiliki pikiran yang sama seperti saya. Memang tidak banyak yang bisa dilakukan oleh kaum minoritas yang sebenarnya ingin membela hak-hak waria tersebut. Saya pun hanya bisa melakukannya lewat kritik melalui tulisan ini. Apalagi dengan adanya kelompok – kelompok kontra waria yang begitu banyaknya, yang membuat kaum minoritas menjadi susah dan takut untuk bergerak lebih jauh. Namun dengan tulisan ini, saya harap kita bisa dan mau untuk melihat lebih jauh lagi tentang apa yang sesungguhnya terjadi terhadap waria sebelum menjatuhkan penilaian dan penghakiman atas kehidupan mereka. Kehidupan mereka sudah cukup berat dengan adanya berbagai tindak diskriminasi yang mereka terima setiap hari sehingga tak perlu lah kita tambahi dengan pernyataan tak benar yang akan semakin membebani mereka. Seperti manusia pada umumnya, mereka pun memiliki keinginan, harapan, dan kebutuhan akan kehidupan yang merdeka dan tentram.