Ketika Ilmu Tak Terbatas Ruang dan Waktu

Bullying Yang Mejadi Budaya Di Sekolah

Maraknya kasus kekerasan di sekolah makin membuat kita mengelus dada. Banyak kasus berawal dari hal sepele, seperti mengejek. Nah, apa dan bagaimana mengantisipasi tindakan yang kerap disebut bullying ini?

 Beberapa waktu lalu, berbagai media massa riuh rendah memberitakan kasus kekerasan yang menimpa Muhammad Fadil Sirath, siswa kelas X SMA 34 (kelas 1 SMA), Pondok Labu, Jakarta Selatan. Fadhil menderita retak tangan kanan akibat dianiaya para senior di sekolahnya. Pemicunya adalah soal senioritas yang konon sudah menjadi tradisi di sekolah.

 Untunglah, kasus ini segera ditangani polisi. Alhasil, para pelaku diamankan petugas. Kegiatan yang awalnya hanya ajang main-main pun tumbuh menjadi bibit kekerasan dan bisa berujung sel tahanan bagi para pelakunya. Sementara si korban, mengalami trauma mendalam. Bagaimana ini bisa terjadi ?

BERAWAL DARI LEDEKAN

“Kekerasan di sekolah berawal dari bullying,” tegas Diena Haryana, Ketua Yayasan Semai Jiwa Amini (SEJIWA), yayasan yang concern pada bidang pendidikan. Arti kata bullying memang belum ada dalam terminologi Bahasa Indonesia. Definisinya adalah segala tindakan yang berdampak pada korban berupa rasa terintimidasi, takut, dan tertekan karena dilakukan oleh pelaku menggunakan kekuasaan secara berulang kali.

 Bullying bisa dilakukan secara verbal (mengatai, menjuluki, menghina, mencela, memfitnah, memaki, atau mengancam, fisik (menendang, mencubit, menghukum dengan lari keliling lapangan, dll), dan mental (menjauhi, meneror, mengintimidasi, diskriminasi, mengabaikan, memelototi, dll). Dalam kaitannya dengan bullying di sekolah, ini bisa dilakukan oleh individu ke individu, kelompok ke individu atau kelompok ke kelompok. Tak jarang pula terjadi dari guru ke siswa. Tujuannya adalah si pelaku ingin menunjukkan power kepada yang lain.

 “Misalnya, seperti kasus Fadhil, para seniornya ingin menunjukkan power-nya pada junior dengan cara menggencet dan uji fisik. Bisa jadi dalam pandangan si senior, adik kelasnya ini cupu (culun punya), pendiam, banyak tingkah, atau mengabaikan kehendak senior. Dan pada akhirnya karena kebablasan, terjadilah penganiayaan yang sudah masuk kategori kriminal,” beber Diena.

 Mengapa bullying bisa terjadi? Banyak faktor pemicu. Bisa jadi, sambung Diena, karena faktor orangtua di rumah yang tipe suka memaki, membandingkan atau melakukan kekerasan fisik. Anak pun menganggap benar bahasa kekerasan.

 “Output-nya, si anak bisa menjadi individu yang merasa rendah diri ataupun pemarah. Di sekolah dia bisa menjadi pembuli (pelaku bullying) atau dibuli (korban bullying). Batas antara pasif dan agresif, kan, demikian tipis. Contohnya, kasus Cho Seung Hui, mahasiswa yang melakukan penembakan sekitar 32 orang di kampus Virginia Tech, Amerika Serikat, 16 April 2007. Ternyata di rumah orangtuanya selalu membandingkan dia dengan kakaknya, lalu di kampus dia diolok-olok terus karena dianggap aneh. Dalam kondisi marah dan tertekan, muncullah sifat agresif negatif dalam dirinya,” papar Diena.

 Selain faktor orangtua, teman-teman juga bisa menjadi pemicu. Supaya dianggap cool, anak-anak ikut-ikutan menjadi pembuli. Bisa juga, faktor anak-anak yang sangat dimanja di rumah, sehingga semua orang harus tunduk pada dia. Atau, sambungnya, faktor media yang banyak menayangkan tontonan kekerasan.

 “Guru juga bisa menjadi pembuli. Misalnya, dengan memberikan hukuman atau mengatai. Belum lama ada kasus anak bunuh diri karena malu tak bisa menggunakan seragam yang disuruh gurunya. Atau tradisi ospek yang belum ditetapkan jelas oleh sekolah aturan mainnya. Misalnya, siswa diminta mengumpulkan tanda tangan seniornya dan para senior boleh melakukan apa saja. Nah, itu semua memperlihatkan betapa parahnya akibat bullying itu,” sambungnya.

 Dalam kasus Fadhil, walaupun sudah ditangani secara hukum, Diena berharap dilakukan pendampingan bagi para pelaku (konsultan atau orangtua). Jika memang mereka sampai ditahan, jangan sampai mereka langsung kontak dengan kriminal-kriminal yang bisa tambah memicu keagresifannya. “Untuk Fadhil sendiri, pastinya sangat depresi dan traumatik. Hal ini dikhawatirkan mempengaruhi perilaku saat dewasa nanti. Maka itu, perlu juga pendampingan sampai kepercayaan dirinya tumbuh kembali.”

Siapkan Indonesia Dengan Masa Depan Teknologi Komunikasi ?

Pada dasarnya, tenologi komunikasi selalu berorientasi pada masa depan. Mengapa demikian? Teknologi, apapun bentuknya selalu mencari cara baru untuk berkembang, dan untuk membuka celah baru bargi inovasi-inovasi selanjutnya. Teknologi, bukanlah akan menjadi teknologi yang seutuhnya jika tidak terbuka lahan bagi perbaikan. Karena pada dasranya teknologi diciptakan untuk kemaslahatan, kemudahan, serta kepuasan hidup manusia, dan karena pada dasranya manusia tidak pernah puas, maka teknologipun pada akhirnya selalu berusaha untuk dikembangkan.

Maka jika kita telah berbicara mengenai perkembangan, kitapun berbicara mengenai orientasi kepada masa depan. Teknologi selama ini selalu dianggap sebagai sesuatu yang futuristic, sesuatu yang ditujukan untuk masa depan, sesuatu yang tidak dapat kita temui di masa sekarang, hanya ada di masa depan. Dunia hiburan, terutama film-film, seringkali menggambarkan masa depan dengan mayoritas warna abu-abu millennium, dimana semua berbasis layar sentuh, kita tidak akan menemukan dinding dari batu bata, namun dari bahan kaca yang jika disentuh akan muncul feature-feature yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Masa depan teknologi komunikasi sebenarnya bukanlah sesuatu yang terlalu susah untuk dibayangkan. Mungkin poin yang digambarkan oleh media-media populer bahwa masa depan akan berbasis layar sentuh, benar adanya. Pernahkah anda mendengar mengenai Corning Incorporated? Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang industri dan pembuatan kaca dan juga teknologi terapan. Corning, membuat dunia terperanjak dengan video yang ia luncurkan pada 2011 lalu yang berjudul A Day Made of Glass. Video ini menyajikan gambaran di mana masa depan merupakan dunia yang isinya didominasi oleh adanya permukaan kaca tipis yang interaktif, yang dapat kita temukan dimana pun di kehidupan kita, sejak kita bangun hingga kita kembali ke kamar kita masing-masing dan tertidur.

Kaca interaktif yang dimaksudkan dapat kita jadikan sebagai alat komunikasi kita: kita dapat mengirimkan pesan teks, email, dan lain sebagainya melaluinya, dan kaca ini terdapat di manapun di sekitar anda: di kamar mandi anda, di dinding kamar anda, dashboard mobil anda, bahkan sebagai bagian luar bangunan gedung-gedung perkantoran. Hal yang menarik dari video yang diluncurkan Corning ini adalah bahwa visi masa depan yang demikian yang mereka gambarkan pada A Day Made of Glass merupakan sesuatu yang sedang in-progress, sesuatu yang sedang mereka kerjakan inovasinya sekarang, dan berusaha untuk benar-benar mereka hadirkan di kehidupan nyata dalam beberapa tahun lagi. Ada begitu banyak aspek yang dipengaruhi oleh berkembangnya teknologi menuju arah yang futuristik. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, komunikasi tentu saja, lalu sebut juga  dunia kesehatan, pendidikan, hiburan, transportasi, bahkan dunia pertanian dan agrikultur, serta masih banyak aspek-aspek lainnya.

Para peneliti di Finlandia, sebagaimana dikabarkan oleh Futurist Magazine, sedang mengembangkan Supersizing Microscope. Supersizing microscope ini disambungkan dengan miskroskop yang ada, dan akan menampilkan gambaran sample yang ada di miskroskop. Kelebihan dari display screen ini adalah layarnya yang besar, dengan ukuran minimum sebesar 46 inch, memaksimalkan kemampuan touch screen, sehuingga para peneliti sample dapat memperbesar dan memperkecil gambaran dari sample yang ada, mirip dengan bagaimana kita memperbesar atau memperkecil tampilan di Ipad. Pengembangan ini dipercaya dapat mempermudah proses penelitian para ilmuwan.

Sementara di bidang hiburan, inovasi yang terjadi sudah tidak dapat diragukan lagi. Inovasi yang terbaru adalah pengembangan 3-D mobile phone. Para peneliti di Fraunhofer

Institute for Telecommunications di Berlin sedang berusaha mewujudkan impian para pecinta film agar mereka dapat lebih dalam menikmati film-film yang mereka sukai. Para peneliti ini menjanjikan pengalaman menonton yang tidak terlalu berbeda dari di bioskop, dalam artian teknologi 3-D yang disediakan akan benar-benar sama seperti yang ada di bioskop, bedanya hanya akan ada pada media: yang satu berlayar besar dan kita harus jauh-jauh ke bioskop, dan yang satu lagi berlayar sebesar layar handphone dan tidak memerlukan kita untuk pergi jauh-jauh ke bioskop.

 Perekonomian Indonesia Untuk Teknologi Masa Depan

Lalu bagaimana kesempatan Indonesia dalam masa depan teknologi komunikasi? Sebagai bangsa dengan masyarakat yang jumlahnya sangat banyak, dan terlebih lagi, dengan bentangan status ekonomi dan sosial yang berbeda-beda, terdapat pula banyak pandangan tentang masa depan teknologi komunikasi dan kesuksesan penerapannya di Indonesia, jadi tidak bisa disamakan.

Jika kita berbicara dari sisi ekonomi, mengenai orang-orang yang berada di struktur menengah ke atas dalam dalam kehidupan ekonomi dan sosial, tentu mereka adalah orang-orang yang akan mampu dan sanggup menerapkan masa depan teknologi komunikasi, jika masa depan itu merupakan sesuatu yang berbentuk barang dan untuk mendapatkannya diperlukan pengorbanan berupa uang. Namun jika kita berbicara mengenai orang-orang yang hidupnya berada di garis antara menengah ke bawah, maka kesempatan mereka untuk melakukan pengorbanan yang sama, tentu jauh lebih kecil.

Jika ditilik dari sejarah konsumerisme masyarakat Indonesia, kesempatan seluruh masyarakat untuk menikmati perkembangan teknologi komunikasi, sangatlah besar. Kita mengetahui dengan jelas bagaimana smartphone menjadi tren di Negara ini beberapa tahun terakhir. Sebutkan pula mengenai gadget-gadget yang berlayar sentuh. Intinya, sebenarnya masyarakat Indonesia, terlepas dari masalah status ekonominya, mempunyai perhatian yang besar terhadap teknologi.

Permasalahannya sekarang tinggal bagaimana kita memilah-milah teknologi dan perkembangannya sendiri. Teknologi pada dasarnya diciptakan untuk memudahkan kehidupan kita. Apapun dan bagaimanapun nantinya masa depan teknologi membawa manusia, seharusnya tetap tidak boleh dilupakan tujuan awal dari teknologi itu sendiri, yaitu untuk mempermudah hidup kita, bukan malah menghancurkan.

Orang Desa VS Orang Kota

Dalam masyarakat modern,sering dibedakan anatara masyarakat pedesaan dengan masyarakat pedesaan rural comunity,dan urban comunity. Perbedaan tersebut sebenarnya tidak mempunyai hubungan dengan pengertian masyarakat sederhana,karena dalam masyarakat modern,betapapun kecilnya suatu desa,pasti ada pengaruh-pengaruh dari kota.Sebaliknya pada masyarakat bersahaja,pengaruh dari kota secara relatif tidak ada.
A. Kehidupan Masyarakat Kota
Orang kota sudah memandang penggunaan kebutuhan hidup,sehubungan dengan masyarakat sekitarnya.Yang mempunyai ciri-ciri :
1) Kehidupan keagamaan berkurang bila dibandingkan dngan kehidupan agama di Desa.
2) Orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain.
3) Pembagian kerja diantara warga kota juga lebih tegas dan punya batas-batas nyata.
4) Kemungkinan-kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan lebih banyak dari pada warga desa.
5) Jalan pikiran rasional yang prasional yang pada umumnya dianut masyarakat perkotaan.
6) Jalan kehidupan yang cepat di Kota,mengakibatkan pentingnya faktor waktu.
7) Perubahan-perubahan sosial tampak dengan nyata di kota-kota,karena kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh luar.
Namun,kelemahan dari Kehidupan Kota pun dapat terlihat dengan berkurangnya lahan untuk pemukiman yang menyebabkan sempitnya dalam perkembangan kehidupan yang lebih baik.Baik dilihat dalm sisi kesehatan,masyarakat Kota lebih cenderung mengidap lebih banyak mengalami masalah kesehatan karena kondisi lingkungan yang tidak mendukung.
B. Kehidupan Masyarakat Desa
Warga suatu masyarakat pedesaan mempunyai hubungan yang lebih erat dan lebih mendalam ketimbang hubungan mereka dengan warga masyarakat pedesaan lainnya.Sistem kehidupan biasanya berkelompok atas dasar sistem kekeluargaan.
Golongan orang-orang tua pada masyarakat pedasaan umunya memegang peranan penting. Orang akan selalu meminta nasehat kepada mereka apabila ada kesulitan-kesulitan yang dihadapi.Adapun keunggulan dari masyarakat desa ialah :
1) Tingkat kekentalan terhadap Agama lebih menonjol.
2) Sifat kekeluargaan yang bergotong-royong masih menjadi ciri khas yang relatif masih banyak ditemui.
3) Sikap sopan santun yang masih melekat pada setiap anggota masyarakatnya masih menjadi modal utama kehidupan masyarakat desa.
4) Kebiasaan adat istiadat yang selalu menjadi sumber dari kegiatan desa masih menjadi patokan dalam ritual kebudayaan.
Namun ada pula yang menjadi kekurangan dari desa yaitu sebagian yang terdapat dalam kelebihan masyarakat kota.

Waria Dalam Berbagai Sudut Pandang

Waria, kata yang seakan penuh dengan nilai – nilai negatif dalam pribadi seseorang dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupannya. Tak jarang kita mendengar, bahkan melihat, bagaimana kehidupan mereka dipenuhi dengan kekerasan, baik fisik maupun psikis. Contohnya saja pelecehan – pelecehan yang dilakukan oleh petugas yang seharusnya menjaga keamanan masyarakat, penolakan yang dilakukan oleh para tokoh masyarakat dan tokoh agama, maupun pandangan negatif yang tak berujung dan tak beralasan dari masyarakat pada umumnya.

Mengutip lirik lagu yang dibawakan oleh grup band Seurius, “Rocker juga manusia, punya rasa punya hati…”, itu pula jeritan terpendam yang ada di dalam hati para waria. Mereka pun manusia yang memiliki perasaan dan bisa merasa sakit hati akibatperlakuan – perlakuan tak wajar yang sering mereka terima, sama seperti kita semua. Mereka memiliki harga diri yang seharusnya dilindungi, bukannya diinjak – injak seperti yang terjadi sekarang ini. Apakah tak pernah terlintas dalam pikiran kalian, betapa menderita kehidupan mereka? Menerima pengakuan dari masyarakat saja susahnya setengah mati. Negara pun tak memberi perlindungan bagi mereka, bahkan kesan yang terlihat justru mereka secara tidak langsung dibuang dari kehidupan bernegara. Mereka benar – benar berjuang sendiri untuk tetap hidup di negara ini, dengan segala caci maki yang menghujani kehidupan mereka setiap harinya.

Tak banyak sebenarnya yang dituntut oleh kaum waria itu. Hanya pengakuan akan keberadaan mereka dan kesetaraan akan segala hal yang berhubungan dengan kemanusiaan. Sebagai contoh adalah susahnya waria untuk mencari pekerjaan yang dapat digunakan sebagai penopang hidup mereka. Padahal tidak semua waria suka bersikap kasar dan bertindak seenaknya. Bila hal seperti ini terus berlanjut, tak heran banyak waria yang akhirnya terpaksa mencari nafkah dengan mengamen di jalan. Dan ekstrimnya, mereka terpaksa berpenampilan “wah” untuk menarik perhatian masyarakat sehingga masyarakat paham bahwa mereka eksis. Jadi, jangan salahkan waria bila mereka mencari berbagai macam cara, yang terkadang membuat kita merasa tidak nyaman, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Setelah mengalami berbagai hal buruk yang menimpa kehidupannya, waria pun tak tinggal diam. Mereka tahu, kekerasan tak akan membuat keberadaan mereka diakui, bahkan justru memperburuk citra mereka. Untuk membentuk citra positif akan mereka di mata masyarakat, waria – waria yang ada di Yogyakarta membuat sebuah komunitas yang berasal dari waria untuk waria, bernama KEBAYA. Komunitas ini tidak bersifat mengikat maupun memaksa, mereka hanya berusaha mempersatukan, membentuk kepribadian para waria agar dapat diterima oleh masyarakat, dan mengontrol kegiatan dan tingkah laku mereka dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan bergabung di dalam komunitas ini, para waria bisa mengembangkan diri mereka. Beberapa di antara mereka kini telah mempunyai usaha yang cukup sukses, ada yang menjadi penyanyi untuk pesta-pesta besar, dan ada pula yang sering dipanggil untuk menjadi pembicara di dalam seminar-seminar besar. Dari sini terlihat bahwa waria pun memiliki kemampuan lebih dari sekedar pengamen di jalan. Hanya saja mereka hampir tak memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri atau pun kesempatan untuk menunjukkan kelebihan mereka pada masyarakat karena citra negatif yang dibentuk oleh masyarakat telah menutup jalan mereka untuk menjadi orang yang berguna.

Pembahasan tentang pro – kontra keberadaan kaum waria di tengah kehidupan masyarakat Indonesia tak ada habisnya. Perdebatan akan penerimaan kaum waria di dalam masyarakat selalu menimbulkan protes dari berbagai kalangan, mulai dari segi agama hingga dari segi budaya. Tak banyak yang benar – benar membuka mata dan mau melihat tentang siapa waria itu dan bagaimana kepribadian mereka sesungguhnya. Apakah benar waria selalu terkait dengan hal – hal negatif saja, tanpa memiliki nilai – nilai positif yang sebenarnya juga berguna bagi sesamanya?

Mungkin ada beberapa di antara Anda yang mengerti akan eksistensi waria, tidak hanya dari segi negatifnya saja melainkan dari segi positifnya juga. Namun tak dapat dipungkiri, selama ini kita telah terhegemoni untuk membentuk citra negatif tentang waria di dalam pemikiran kita. Salah satu penyebabnya adalah kedekatan kita dengan media yang sering kali tidak diimbangi dengan sikap kritis kita untuk mencocokkannya dengan fenomena yang ada. Media tak jarang memberitakan tentang waria. Sayangnya, pemberitaan tersebut tak pernah lepas dari hal-hal yang berhubungan dengan kekerasan, pelecehan, dan seksualitas. Seolah – olah tak ada sedikit pun hal yang bisa dibanggakan oleh seorang waria berkaitan dengan faktor-faktor di luar jenis kelaminnya, seperti intelektualitas, potensi, bakat, prestasi, dan lain sebagainya.

Ada sebuah pertanyaan yang selalu mengganjal di dalam hati saya, yaitu seberapa jauhkah masyarakat mengenal pribadi dan kehidupan waria, sampai – sampai mereka bisa memberikan penghakiman dan pernyataan ,yang saya rasa sangat menyakitkan bagi kaum waria itu sendiri. Bayangkan saja bagaimana rasanya bila kita dikucilkan dari kehidupan bermasyarakat dengan begitu banyak orang yang menentang keberadaannya. Bahkan, diakui atau tidak, dimusuhi oleh teman satu gank saja sudah bisa membuat orang menjadi kebingungan setengah mati. Dan jika kita bisa menghakimi tanpa betul-betul mengetahui apa yang sebenarnya mereka alami, tidakkah itu bisa disebut sebagai pemfitnahan secara massal?

Contoh yang paling jelas saat ini mengenai bagaimana media membentuk citra waria di mata masyarakat adalah dengan ditayangkannya program acara “Be A Man”, di mana di sini para waria ini diikutsertakan dalam pelatihan yang berat dengan tujuan menjadikan waria – waria ini menjadi lelaki sejati. Entah apa yang melatarbelakangi ide produksi program acara ini. Namun saya pribadi ragu akan kesungguhan para waria dalam mengikuti acara itu. Apakah mereka ikut karena kesadaran dan keinginan mereka sendiri untuk mengembalikan identitas asli mereka sebagai seorang laki – laki sejati, ataukah karena adanya iming – iming imbalan yang cukup besar untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Alasan kedua tersebut sangat mungkin terjadi mengingat bagaimana susahnya untuk mencari pekerjaan yang memadai bagi kaum waria, tak peduli seberapa cerdas dan berpotensinya mereka di dalam bidang yang diminatinya.

Bisa kita lihat di dalam acara ”Be A Man” tersebut, bagaimana ditampilkan wajah waria yang ketakutan dan merasa tertekan dengan pelatihan-pelatihan yang begitu berat dan dilakukan dengan agak memaksa karena adanya batasan jam tayang serta episode siaran program acara tersebut. Akibatnya waria ini dituntut untuk secepatnya menjadi lelaki sejati tepat pada akhir episode acara, bukan dibentuk kepribadiannya dengan cara yang manusiawi. Contohnya saja saat para waria tersebut ditakuti – takuti dengan menggunakan ular. Sangat tidak manusiawi menurut saya, mengubah kepribadian seseorang dengan menakut-nakutinya menggunakan hal yang tidak masuk akal seperti itu. Apakah bila mereka tidak takut ular lalu bisa disimpulkan bahwa mereka adalah lelaki sejati? Padalah pada kenyataannya, tidak jarang lelaki sejati yang takut juga pada ular karena memang ular adalah binatang yang berbahaya dan cukup sulit untuk dihadapi.

Di dalam media, hal – hal seperti di atas tadi lah yang justru dianggap paling menjual karena banyak masyarakat yang tertarik untuk melihatnya. Saat – saat mengerikan yang dialami oleh waria, secara fisik maupun kejiwaannya, justru menjadi bahan tontonan yang asyik bagi masyarakat seakan tak ada sedikit pun perasaan iba akan apa yang dialami oleh waria tersebut. Wajah ketakutan waria yang diekspos oleh media justru menjadi bahan tertawaan dan dianggap seperti sebuah lawak oleh pemirsanya, seakan itu adalah hal yang wajar saja untuk terjadi dan dikonsumsi publik. Proses kejiwaan waria yang berat ini justru dijadikan hiburan di dalam media demi meraih keuntungan. Bila dikatakan secara gamblang, hiburan itu kita peroleh dengan mengorbankan kejiwaan waria. Di sinilah terlihat dengan jelas bahwa etika media telah amat pudar dan tak berfungsi lagi. Etika itu kini hanyalah hiasan dan dokumen belaka tanpa disertai dengan realisasinya dalam kehidupan nyata.

Mungkin ada di antara orang – orang yang berkecimpung dalam dunia media, yang sebenarnya memiliki pikiran yang sama seperti saya. Memang tidak banyak yang bisa dilakukan oleh kaum minoritas yang sebenarnya ingin membela hak-hak waria tersebut. Saya pun hanya bisa melakukannya lewat kritik melalui tulisan ini. Apalagi dengan adanya kelompok – kelompok kontra waria yang begitu banyaknya, yang membuat kaum minoritas menjadi susah dan takut untuk bergerak lebih jauh. Namun dengan tulisan ini, saya harap kita bisa dan mau untuk melihat lebih jauh lagi tentang apa yang sesungguhnya terjadi terhadap waria sebelum menjatuhkan penilaian dan penghakiman atas kehidupan mereka. Kehidupan mereka sudah cukup berat dengan adanya berbagai tindak diskriminasi yang mereka terima setiap hari sehingga tak perlu lah kita tambahi dengan pernyataan tak benar yang akan semakin membebani mereka. Seperti manusia pada umumnya, mereka pun memiliki keinginan, harapan, dan kebutuhan akan kehidupan yang merdeka dan tentram.

TNI Untuk Keamanan Dan Kesatuan Negara Indonesia

Tentara Nasional Indonesia (atau biasa disingkat TNI) adalah nama sebuah angkatan perang dari negara Indonesia. Pada awal dibentuk bernama Tentara Keamanan Rakyat (TKR) kemudian berganti nama menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) dan kemudian diubah lagi namanya menjadi seperti sekarang ini.

Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari tiga angkatan bersenjata, yaitu TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Laut, dan TNI Angkatan Udara. TNI dipimpin oleh seorang Panglima TNI, sedangkan masing-masing angkatan dipimpin oleh seorang Kepala Staf Angkatan. Panglima TNI saat ini adalah Laksamana TNI Agus Suhartono.

Sejarah TNI

Negara Indonesia pada awal berdirinya sama sekali tidak mempunyai kesatuan tentara. Badan Keamanan Rakyat yang dibentuk dalam sidang PPKI tanggal 22 Agustus 1945 dan diumumkan oleh Presiden pada tanggal 23 Agustus 1945 bukanlah tentara sebagai suatu organisasi kemiliteran yang resmi.

BKR baik di pusat maupun di daerah berada di bawah wewenang KNIP dan KNI Daerah dan tidak berada di bawah perintah presiden sebagai panglima tertinggi angkatan perang. BKR juga tidak berada di bawah koordinasi Menteri Pertahanan. BKR hanya disiapkan untuk memelihara keamanan setempat agar tidak menimbulkan kesan bahwa Indonesia menyiapkan diri untuk memulai peperangan menghadapi Sekutu.

Akhirnya, melalui Maklumat Pemerintah tanggal 5 Oktober 1945 (hingga saat ini diperingati sebagai hari kelahiran TNI), BKR diubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Pada tanggal 7 Januari 1946, Tentara Keamanan Rakyat berganti nama menjadi Tentara Keselamatan Rakyat. Kemudian pada 24 Januari 1946, diubah lagi menjadi Tentara Republik Indonesia.

Karena saat itu di Indonesia terdapat barisan-barisan bersenjata lainnya di samping Tentara Republik Indonesia, maka pada tanggal 5 Mei1947, Presiden Soekarno mengeluarkan keputusan untuk mempersatukan Tentara Republik Indonesia dengan barisan-barisan bersenjata tersebut menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Penyatuan itu terjadi dan diresmikan pada tanggal 3 Juni 1947.

Jati Diri TNI

Sesuai UU TNI pasal 2, jati diri Tentara Nasional Indonesia adalah:

  1. Tentara Rakyat adalah tentara yang anggotanya berasal dari Warga Negara Indonesia
  2. Tentara Pejuang adalah tentara yang berjuang menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan tidak mengenal menyerah dalam melaksanakan dan menyelesaikan tugasnya
  3. Tentara Nasional adalah tentara kebangsaan Indonesia yang bertugas demi kepentingan negara di atas kepentingan daerah, suku, ras, dan golongan agama
  4. Tentara Profesional adalah tentara yang terlatih, terdidik, diperlengkapi secara baik, tidak berpolitik praktis, tidak berbisnis, dan dijamin kesejahteraannya, serta mengikuti kebijakan politik negara yang menganut prinsip demokrasi, supremasi sipil, hak asasi manusia, ketentuan hukum nasional, dan hukum internasional yang telah diratifikasi

Tugas TNI

Sesuai UU TNI Pasal 7 ayat (1), Tugas pokok TNI adalah menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 45, serta melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara. (2) Tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan:

  1. operasi militer untuk perang
  2. operasi militer selain perang, yaitu untuk:
    1. mengatasi gerakan separatis bersenjata
    2. mengatasi pemberontakan bersenjata
    3. mengatasi aksi terorisme
    4. mengamankan wilayah perbatasan
    5. mengamankan obyek vital nasional yang bersifat strategis
    6. melaksanakan tugas perdamaian dunia sesuai dengan kebijakan politik luar negeri
    7. mengamankan Presiden dan Wakil Presiden beserta keluarganya
    8. memberdayakan wilayah pertahanan dan kekuatan pendukungnya secara dini sesuai dengan sistem pertahanan semesta
    9. membantu tugas pemerintahan di daerah
    10. membantu Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam rangka tugas keamanan dan ketertiban masyarakat yang diatur dalam undang-undang
    11. membantu mengamankan tamu negara setingkat kepala negara dan perwakilan pemerintah asing yang sedang berada di Indonesia
    12. membantu menanggulangi akibat bencana alam, pengungsian, dan pemberian bantuan kemanusiaan
    13. membantu pencarian dan pertolongan dalam kecelakaan (bahasa Inggris: search and rescue)
    14. membantu pemerintah dalam pengamanan pelayaran dan penerbangan terhadap pembajakan, perompakan, dan penyelundupan.

Berikut ini adalah contoh peran TNI dalam pengamanan wilayah di Palangkaraya Kalbar, dikutip dari metroTVnews :

Metrotvnews.com, Palangkaraya: TNI memperketat dan meningkatkan pengamanan di perbatasan Kalimantan Barat. Ini dilakukan demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan RI (NKRI).

“Saat ini ditempatkan Batalyon 305 Kostrad dan penambahan enam pos di perbatasan Kalbar. Nantinya ada pergantian dari Batalyon 305 Kostrad kepada Batalyon 123 Sumatra,” kata Pangdam XII/Tpr Mayjen TNI Ridwan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Kamis (11/10).

Patroli gabungan bersama kepolisian juga dilakukan sebagai upaya mencegah hal-hal yang dapat mengganggu stabilitas NKRI. Terkait pemilihan kepala daerah di Kalteng yang dimulai November 2012, Pangdam menyatakan akan mempersiapkan personel untuk membantu pengamanan.

Peran Pemuda Dalam Pembangunan Desa

pemuda bangun desa

Bicara soal pembangunan desa, tentu bukan menjadi tugas pemerintah semata.                                                          Tetapi sudah menjadi tanggung jawab semua komponen bangsa, tak terkecuali pemuda. Lalu, apakah peran pemuda dalam pembangunan desa betul-betul bisa diandalkan? Seberapa jauh pemuda memberi kontribusi dalam pembangunan Indonesia secara umum, dan desa secara khusus? Apa yang mesti ditawarkan oleh pemuda dan seberapa strategisnya mereka dalam program pembangunan desa?

Kalau kita melihat tapak tilas dan jejak rekam para pemuda dalam pergerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Mereka memiliki sejarah yang cukup bagus. Dalam konteks perubahan sosial Indonesia, pemuda selalu berada di garda paling depan. Tak jarang pemuda menjadi pemompa semangat, pencerah pemikiran dan pembakar api perjuangan untuk keluar dari penjajahan dan keterjajahan. Itulah sebabnya mengapa Presiden pertama Indonesia Soekarno hanya meminta 10 pemuda saja untuk membangun bangsa ini daripada 1000 orang tua tak berdaya.

Marilah sejenak kita merefresh kembali ingatan kita tentang sejarah masa lalu Indonesia dan bagaimana peran pemuda waktu itu. Tentu kita masih ingat Hari Kebangkitan Nasional 1908, hari kelahiran ikrar Sumpah Pemuda 1928, dan Hari Kemerdekaan Indonesia 1945. Semuanya itu terjadi berkat perjuangan pergerakan pemuda yang ingin membebaskan Indonesia dari penjajahan bangsa lain. Bahkan, gerakan reformasi 1998 yang ditandai dengan lengsernya kerajaan Soeharto juga tak lepas dari peran pemuda, mahasiswa, pelajar, dan elemen masyarakat lainya.

 Ini artinya, pemuda secara historis, memberikan kontribusi yang cukup besar bagi bangsa kita. Dengan begitu, tidak ada alasan, dalam program pembangunan desa, peran dan kiprah pemuda untuk tidak diikutsertakan.

 

Masalah Umum dalam Pembangunan Desa

Pembangunan pada prinsipnya sebuah proses sistematis yang dilakukan oleh masyarakat atau warga setempat untuk mencapai suatu kondisi yang lebih baik dari apa yang dirasakan sebelumnya. Namun demikian, pembangunan juga merupakan proses “bertahap” untuk menuju kondisi yang lebih ideal. Karena itu, masyarakat yang ingin melakukan pembangunan perlu melakukan tahapan yang sesuai dengan sumber daya yang dimilikinya dengan mempertimbangkan segala bentuk persoalan yang tengah dihadapinya.

Besarnya disparitas antara desa maju dengan desa tertinggal banyak disebabkan oleh: terbatasnya ketersediaan sumber daya manusia yang profesional; belum tersusunnya kelembagaan sosial-ekonomi yang mampu berperan secara epektif dan produktif; pendekatan top down dan button up yang belum berjalan seimbang; pembangunan belum sepenuhnya partisipatif dengan melibatkan berbagai unsur; kebijakan yang sentralistik sementara kondisi pedesaan amat plural dan beragam; pembangunan pedesaan belum terintegrasi dan belum komperhensif; belum adanya fokus kegiatan pembangunan pedesaan; lokus kegiatan belum tepat sasaran; dan yang lebih penting kebijakan pembangunan desa selama ini belum sepenuhnya menekankan prinsip pro poor, pro job dan pro growth.

Kenyataan di atas tentu sangat mengkhawatirkan kita semua. Mengapa desa yang memiliki kekayaan yang melimpah dan sumber daya alam yang tak terhitung justru mengalami ketertinggalan. Padahal pasokan makanan dan buah-buah untuk wilayah perkotaan semuanya berasal dari desa. Desa memiliki lahan yang luas, wilayah yang strategis, dan kondisi yang memungkinkan untuk berkarya dan mencipta. Mengingat demikian besarnya sumber daya manusia desa, di tambah dengan sumber daya alam yang berlimpah ruah, serta dilihat dari strategi pertahanan dan ke amanan nasional, maka sesungguhnya basis pembangunan nasional adalah di pedesaan. Sangat disayangkan sekali bila pembangunan nasional tidak ditunjang dengan pembangunan pedesaan.

Posisi Strategis Pemuda

Sebelum kita mendiskusikan posisi strategis dari pemuda dalam pembangunan desa tertinggal. Baiknya kita potret terlebih dahulu kondisi objektif bangsa kita saat ini. Secara objektif, bangsa Indonesia berada dalam situasi ”krisis”. Krisis dalam arti negara sedang mengalami pathologi atau kondisi sakit yang amat serius. Negara telah mengalami salah urus, rapuh dan lemah. Banyaknya para birokrat negara yang korup dan belum menunjukan keberpihakannya pada rakyat cukup membuktikan betapa rapuhnya kondisi bangsa kita.

Dampak dari salah urus negara yang sedang kita hadapi saat ini adalah terdapat 40 juta rakyat berada dalam garis pemiskinan, dan hampir 70% rakyat miskin berada di perdesaan, sumber daya alam (air, panas bumi, barang tambang hasil tani) dimiliki pengusaha asing, sekitar 13 Juta rakyat tidak memiliki pekerjaan, kualitas pendidikan yang masih rendah, banyak warga yang tidak bisa melanjutkan pendidikan dan tingkat buta huruf masih tinggi. Kondisi ini diperparah dengan ketersediaan pangan yang semakin terbatas. Krisis sosial juga berdampak pada memudarnya nilai-nilai dan ikatan kohesifitas warga. Ada kecendrungan nilai-nilai gotong royong, praktik swadaya mulai melemah seiring dengan memudarnya budaya lokal yang semakin tergerus oleh budaya lain.

Maka dalam rangka memperbaiki kondisi krisis yang tengah dihadapi bangsa kita sehingga berimbas pada tersendatnya pembangunan di perdesaan. Keberadaan pemuda sebagai penggerak dan perubah keadaan sangat memainkan posisi yang strategis. Strategis mengandung arti bahwa pemuda adalah kader penerus kepemimpinan nasional dan juga lokal (desa), pembaharu keadaan, pelopor pembangunan, penyemangat bagi kaum remaja dan anak-anak. Karena itu, paling tidak ada 3 peran utama yang bisa dilakukan pemuda sebagai kader penerus bangsa, yaitu; sebagai organizer yang menata dan membantu memenuhi kebutuhan warga desa; sebagai mediamaker yang berfungsi menyampaikan aspirasi, keluhan dan keinginan warga; dan sebagai leader, pemimpin di masyarakat, menjadi pengurus publik/warga.

Ketiga peran itulah setidaknya yang harus dilakukan pemuda dalam pembangunan desa. Dan yang lebih penting lagi, ada beberapa tindakan yang harus dilakukan sebagai strategi pembangunan desa. Pertama, berpartisipasi dalam mempraktikan nilai-nilai luhur budaya lokal dan agama, dan membangun solidaritas sosial antar warga.Kedua, aktif dalam membangun dan mengembangkan wadah atau organisasi yang memberikan manfaat bagi warga. Ketiga, memajukan desa dengan memperbanyak belajar, karya dan cipta yang bermanfaat bagi warga. Keempat, berpartisipasi dalam perencanaan pembangunan yang diselenggerakan oleh pemerintahan desa. Dan kelima, melakukan upaya-upaya untuk mendorong pemerintahan dalam setiap tingkatan (pusat, daerah dan desa) untuk menjalankan fungsinya sebagai pengurus warga yang benar-benar berpihak pada warga.

Strategi dan perencanaan pembangunan desa akan tepat mengenai sasaran, terlaksana dengan baik dan dimanfaatkan hasilnya, apabila perencanaan tersebut benar-benar memenuhi kebutuhan warga setempat atau menekankan prinsip pro poor, pro jobdan pro growth. Untuk memungkinkan hal itu terjadi, khususnya pembangunan perdesaan, mutlak diperlukan keikutsertaan warga desa secara langsung dalam penyusunan rencana dan terlibat dalam setiap agenda. Sikap gotong royong, bahu-membahu, dan saling menjaga hendaknya dilakukan warga desa demi terciptanya pembangunan desa yang lebih baik.

Keberhasilan pembangunan desa pada akhirnya berarti juga keberhasilan pembangunan nasional. Karena desa tidak dipungkiri sebagai sumber kebutuhan warga perkotaan. Dan sebaliknya ketidakberhasilan pembanggunan pedesaan berarti pula ketidakberhasilan pembangunan nasional. Apabila pembangunan nasional digambarkan sebagai suatu titik, maka titik pusat dari lingkaran tersebut adalah pembangunan pedesaan. Karena itu, pemerintah dalam hal ini jangan mengabaikan desa dan mengenyampingkan kebutuhan warga desa. Ciri sebuah negara yang maju bukan bertolak pada pembangunan yang bersifat sentralistik, dalam hal ini berpusat di perkotaan. Tapi antara desa dan kota memerlukan pembangunan yang seimbang dan merata.

HIV/AIDS Di Sekitar Kita

aidsAcquired Immune Deficiency Syndrome (disingkatAIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV; atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan lain-lain).Virusnya sendiri bernama Human Immunodeficiency Virus(HIV) yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan. (atau disingkat
     HIV dan virus-virus sejenisnya umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu. Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut.
     Para ilmuwan umumnya berpendapat bahwa AIDS berasal dari Afrika Sub-Sahara. Kini AIDS telah menjadi wabah penyakit. AIDS diperkiraan telah menginfeksi 38,6 juta orang di seluruh dunia. Pada Januari 2006, UNAIDS bekerja sama dengan WHO memperkirakan bahwa AIDS telah menyebabkan kematian lebih dari 25 juta orang sejak pertama kali diakui pada tanggal 5 Juni 1981. Dengan demikian, penyakit ini merupakan salah satu wabah paling mematikan dalam sejarah. AIDS diklaim telah menyebabkan kematian sebanyak 2,4 hingga 3,3 juta jiwa pada tahun 2005 saja, dan lebih dari 570.000 jiwa di antaranya adalah anak-anak.[5] Sepertiga dari jumlah kematian ini terjadi di Afrika Sub-Sahara, sehingga memperlambat pertumbuhan ekonomi dan menghancurkan kekuatan sumber daya manusia di sana. Perawatan antiretrovirus sesungguhnya dapat mengurangi tingkat kematian dan parahnya infeksi HIV, namun akses terhadap pengobatan tersebut tidak tersedia di semua negara.
      Hukuman sosial bagi penderita HIV/AIDS, umumnya lebih berat bila dibandingkan dengan penderita penyakit mematikan lainnya. Kadang-kadang hukuman sosial tersebut juga turut tertimpakan kepada petugas kesehatan atau sukarelawan, yang terlibat dalam merawat orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA).

Asal Usul

       AIDS pertama kali dilaporkan pada tanggal 5 Juni 1981, ketika Centers for Disease Control and Prevention Amerika Serikat mencatat adanya Pneumonia pneumosistis (sekarang masih diklasifikasikan sebagai PCP tetapi diketahui disebabkan oleh Pneumocystis jirovecii) pada lima laki-laki homoseksual di Los Angeles.      Dua spesies HIV yang diketahui menginfeksi manusia adalah HIV-1 dan HIV-2. HIV-1 lebih mematikan dan lebih mudah masuk kedalam tubuh. HIV-1 adalah sumber dari mayoritas infeksi HIV di dunia, sementara HIV-2 sulit dimasukan dan kebanyakan berada di Afrika Barat. Baik HIV-1 dan HIV-2 berasal dari primata. Asal HIV-1 berasal dari simpanse Pan troglodytes troglodytes yang ditemukan di Kamerun selatan. HIV-2 berasal dari Sooty Mangabey (Cercocebus atys), monyet dari Guinea Bissau, Gabon, dan Kamerun.     Banyak ahli berpendapat bahwa HIV masuk ke dalam tubuh manusia akibat kontak dengan primata lainnya, contohnya selama berburu atau pemotongan daging. Teori yang lebih kontroversial yang dikenal dengan nama hipotesis OPV AIDS, menyatakan bahwa epidemik AIDS dimulai pada akhir tahun 1950-an di Kongo Belgia sebagai akibat dari penelitian Hilary Koprowski terhadap vaksin polio. Namun demikian, komunitas ilmiah umumnya berpendapat bahwa skenario tersebut tidak didukung oleh bukti-bukti yang ada.
Cara Penularan HIV/Aids
HIV menular melalui cairan tubuh seperti darah, semen atau air mani, cairan vagina, air susu ibu dan
cairan lainnya yang mengandung darah.
Virus tersebut menular melalui:
– Melakukan penetrasi seks yang tidak aman dengan seseorang yang telah terinfeksi. Kondom adalah
satu–satunya cara dimana penularan HIV dapat dicegah.
– Melalui darah yang terinfeksi yang diterima selama transfusi darah dimana darah tersebut belum dideteksi
virusnya atau pengunaan jarum suntik yang tidak steril.
– Dengan mengunakan bersama jarum untuk menyuntik obat bius dengan seseorang yang telah terinfeksi.
– Wanita hamil dapat juga menularkan virus ke bayi mereka selama masa kehamilan atau persalinan dan
juga melalui menyusui.
 
Masa Inkubasi HIV/Aids
Masa inkubasi virus HIV sangat lama yaitu kurang lebih 10 tahun. Begitu masuk dalam tubuh manusia, virus HIV tidak serta merta menyerang orang tersebut dengan ganas sampai akhirnya meninggal. Virus ini membunuh manusia secara pelan tapi pasti.Diperlukan waktu kurang lebih 10 tahun bagi virus ini baru mulai menampakkan gejalanya. Selama 10 tahun tersebut hampir tidak ada gejala yang menonjol yang menyebabkan penderitanya waspada atau melakukan sesuatu untuk bertahan hidup. Biasanya seseorang baru tahu terinfeksi virus HIV ketika sudah menjadi AIDS. Padahal, kalau sudah memasuki tahap AIDS, kemungkinan untuk memperpanjang hidup sangat kecil.

Gejala HIV/Aids

Gejala HIV AIDS tidak selalu muncul ketika terinfeksi AIDS. Beberapa orang menderita sakit mirip flu dalam waktu beberapa hari hingga berminggu-minggu setelah terpapar virus. Mereka mengeluh demam, sakit kepala, kelelahan, dan kelenjar getah bening membesar di leher.Gejala HIV AIDS bisa jadi salah satu atau lebih dari ini semua biasanya hilang dengan sendirinya dalam beberapa minggu.
Perkembangan penyakit sangat bervariasi setiap orang. Kondisi ini dapat berlangsung dari beberapa bulan sampai lebih dari 10 tahun. Selama periode ini, virus terus berkembang biak secara aktif menginfeksi dan membunuh sel-sel sistem kekebalan tubuh. Sistem kekebalan memungkinkan kita untuk melawan bakteri, virus, dan penyebab infeksi lainnya. Virus HIVmenghancurkan sel-sel yang berfungsi sebagai “pejuang” infeksi primer, yang disebut CD4 + atau sel T4. Setelah sistem kekebalan melemah, gejala HIV AIDS akan muncul.
Gejala AIDS adalah tahap yang paling maju dari infeksi HIV. Definisi AIDS termasuk semua orang terinfeksi HIV yang memiliki kurang dari 200 CD4 + sel per mikroliter darah. Definisi ini juga mencakup 26 kondisi yang umum pada penyakit HIV lanjut, tetapi jarang terjadi pada orang sehat. Kebanyakan kondisi ini adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, parasit, dan organisme lainnya. Infeksi oportunistik umum pada orang dengan AIDS. Hampir setiap sistem organ yang terkena. Beberapa gejala AIDS secara umum mencakup yang berikut:

Yang Beresiko Terkena HIV Aids
Orang atau kelompok orang yang beresiko tinggi terkena AIDS. Kelompok yang sangat beresiko tinggi diantaranya adalah para homoseksual dan Heteroseksual yang suka bergonta ganti pasangan, khususnya yang suka jajan (dalam tanda petik “melalui pelacuran”). Di Amerika contohnya penularan AIDS yang disebabkan oleh Virus HIV 56-75% adalah kelompok orang Homoseksual, dan sisanya 26-20% yaitu dari kelompok Heteroseksual. Namun dari berbagi informasi sekarang ini 86% yang beresiko tertular Virus HIV justru dari hubungan Heteroseksual, sisanya dari kelompok Homoseksual dan gara-gara transfusi darah, penggunaan jarum sutik pada pencandu narkoba dan lainnya.
Jika dilhat dari kelompok usia, maka yang sangat beresiko tinggi penularan Virud HIV adalah kelompok remja atau anak muda yaitu usia sekitar 13-25 tahun. Karena kelompok usia tersebut pergaulan bebasnya sangat tinggi terlebih di negara-negara yang tidak mengutamakan nilai moral, etik, dan agama. Sebgai contoh di Amerika serikat, katanya 7 dari 10 wanita dan 8 dari 10 pria melakukan hubungan seksual sebelum umur 20 tahaun atau dibwah 20 tahun. Dan satu dari 6 pelajar wanita yang pergaulannya sangat bebas (sexually active), paling sedikit telah berganti-ganti psangan dengan 4 pria yang berbeda ( wow sangat mengherankan buat saya). Satu lagi, setiap tahunya 1-7 remaja tersebut terkena penyakit kelamin (Veneral Disease). Dan masih banyak lagi penyakit yang disebabakn pergaulan bebas dan seks bebas seperti kecing nanah, sifilis, PHS (Penyakit Hubungan Seksual) atau PMS ( Penyakit Menular Seksual) dan lain-lainnya.
Selain itu permasalahan lain yang berdampak resiko tertular Virus HIV  adalah orang yang pergi dari rumah dan bisanya terjadi pada usaia remaja juga yang berusia sekitar 12-17 tahun yang terctat sekarang ini 85% wanita maupun pria yang pergi dari rumah termasuk golongan seksual aktif dan juga termasuk golongan pencadu narkoba atau narkotika. Remaja putri yang pergi dari rumah 34%  biasanya hamil dan sangat beresiko tinggi tertular virus HIV.
Saran saya, jangan mendekatlah dengan virus HIV AIDS agar kita tidak terjerumus k dalam virus tersebut, biasanya orang yang terkena virus HIV itu gara-gara orang itu psiko tinggi (heteroseksual) biasanya banyak terjadi pada kaum perempuan yang selalu gonta ganti pasangan. Itulah saran dari saya, terutama kepada kaum perempuan yang suka gonta ganti pasangan.